Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Mesti atau yang lebih dikenal dengan nama Temu Mudawiyah adalah salah seorang dari penari gandrung. Ia mulai mengenal gandrung dan mulaimenari dari usia dini. Ia hidup dari menari.
Gandrung memiliki 3 tahapan yaitu,
- jejer
- ngibing
- seblang subuh
- JEJER
Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.
-NGIBLING
Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.
Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.
Temu sering mengeluhkan akan tahapan ini, karena banyak laki-laki yang berlaku kurang senonok padanya. Tapi apa daya, inilah kehidupan. Temu hanya bisa menerima dengan lapang walau kadang sedikit terganggu. Inilah cara Temu bekerja, hanya ini, menari gandrung yang bisa dijadikan Temu sebagai lapangan pekerjaannya. Temu sering menelan pahit jika ada laki-laki yang tidak melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, seperti meraba tubuhnya yang elok.
Karena profesinya sebagai penari Gandrung pula banyak orang yang beranggapan miring. Mereka menyangka Temu wanita bayaran. Inilah kenyataan hidup, Pahit.
-SEBLANG SUBUH
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.
Kesenian Gandrung kini sudah jarang dipentaskan. Karena mungkin perkembangan jaman yang membuat masyarakat tidak tertarik lagi. Atau mungkin lebih banyak karena menurut masyarakat Gandrung kurang baik untuk dipertontonkan. Karena pada Tahapan Gabling dianggap kurang senonok.
Bagaimana pun juga, Gandrung harus tetap dilestarikan. Sekarang Gandrung masih tetap ada, tetapi hanya digunakan sebagai kesenian untuk kepentingan akademis.
